Hujan Bulan Juni dan 5 Puisi Sapardi Djoko Damono Lainnya yang Akan Abadi

Beepdo.com, Jakarta Dunia sastra Indonesia kini tengah berduka, sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020) pukul 09.17 WIB. Sapardi dikabarkan menghembuskan napas terakhirnya saat tengah berada di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerangf Selatan.

Kepergian Sapardi Djoko Damono untuk selama-lamanya untuk saja membuat masyarakat Indonesia berduka. Tak heran jika sosial media kini dipenuhi dengan doa serta berbagai ucapan doa atas berpulangnya Sapardi. Untuk kembali mengenang Sapardi Djoko Damono, di bawah ini adalah beberapa puisi sukses yang telah diciptakan olehnya.

1. Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

2. Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono (Kompas)

 

3. Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari

4. Yang Fana Adalah Waktu

Yang Fana Adalah Waktu Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

 

5. Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut ….

Mencintai air harus menjadi ricik ….

Mencintai gunung harus menjadi terjal ….

Mencintai api harus menjadi jilat ….

Mencintai cakrawala harus menebas jarak ….

Mencintai mu harus menjadi aku ….

6. Dalam Doaku

Dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang diatas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun disana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu,
itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Selamat jalan Sapardi Djoko Damono, terima kasih atas semua karya-karya berharga yang telah kamu berikan selama ini.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

19.9kFans
347Followers
704kSubscribers
90.2kFollowers