Menyoal Teknologi Pendidikan di Masa Pandemi COVID-19

Beepdo.com – Kegiatan belajar mengajar di masa pandemi COVID-19 memang penuh tantangan. Teknologi menjadi salah satu solusi untuk kendala lembaga pendidikan dengan adanya prokes, menjaga jarak atau menghindari kerumunan yang berpotensi menjadi klaster penularan.

Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan terus di upayakan oleh pemerintah. Tujuan pendidikan adalah seperangkat sasaran kemana pendidikan itu di arahkan. Tujuan pembelajaran menginterpretasikan proses dan hasil belajar yang diharapkan di capai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

Ilustrasi proses belajar mengajar daring. (Istimewa)
Ilustrasi proses belajar mengajar daring di masa Pandemi COVID-19. (Istimewa)

Artinya, kemampuan yang di rumuskan dalam tujuan pembelajaran mencakup kemampuan yang akan dicapai peserta didik selama proses belajar dan hasil akhir belajar pada suatu kompetensi dasar dalam pembelajaran. Lantas bagaimana dengan yang terjadi saat ini?

Latar belakang peserta didik memegang peran penting untuk menjawabnya. Pandemi yang melanda dunia berimbas pada kekagetan publik untuk beradaptasi. Bagi masyarakat kelas menengah atas, hal ini tentu tidak menjadi masalah. Anak-anak mereka sudah terbiasa diberikan fasilitas berupa gawai yang wah, lengkap dengan fitur dan layanan yang mengasyikkan.

ilustrasi penggunaan aplikasi zoom meeting. (istimewa)

Mengoperasikan gawai mewah itu pun bukan hal sulit bagi mereka. Jika tak bisa, bisa langsung bertanya kepada orang tua yang sarjana. Sekali lagi: mereka sudah terbiasa.

Lalu kemudian, pertanyaannya lagi adalah bagaimana dengan nasib peserta didik dari kalangan bawah di masa Pandemi COVID-19? Tidak sedikit keinginan orang tua mereka agar peserta didik segera kembali ke habitatnya: sekolah. Intaian pandemi ingin mereka indahkan. Dengan alasan, tak mampu memfasilitasi segala kebutuhan.

Gawai yang mahal, kuota yang super menyita pengeluaran dan penghasilan yang pas-pasan hanya untuk makan, menjadi multiproblem yang seakan tak berkesudahan. Selain itu, latar belakang orangtua yang berpendidikan rendah semakin memperburuk keadaan, jangankan untuk bertanya mengenai pelajaran, bertanya cara mengoperasikan gawai dan aplikasi pembelajaran pun mereka kelimpungan.

Pada hakikatnya, pembelajaran daring dimaksudkan untuk meminimalisir penularan COVID-19 yang merebak di Tanah Air. Pada satu sisi, pembelajaran jarak jauh ini efektif untuk mengenalkan teknologi kepada peserta didik. Tapi di sisi lain, persoalan muncul saat transisi pembelajaran konvensional ke pembelajaran berbasis daring, terutama bagi kalangan dengan ekonomi rendah.

Ilustrasi aplikasi zoom (istimewa)
Ilustrasi aplikasi zoom (istimewa)

Ada banyak pilihan aplikasi yang bisa digunakan dalam pembelajaran daring. Umumnya para pendidik menggunakan WhatsApp, Google Classroom, Google Meet, dan Zoom Meeting. Alasan dipilihnya aplikasi tersebut adalah untuk mempermudah pendidik dan peserta didik dalam berinteraksi selama pembelajaran jarak jauh. Masing-masing aplikasi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan.

WhatsApp misalnya, fitur-fitur dalam WA seperti forum panggilan video, voice note, dan audio bisa digunakan untuk Kegiatan Belajar Mengajar, pemberian informasi, materi dan tugas dari pendidik ke peserta didik, atau pun interaksi lainnya seperti mengirimkan list absensi dan bertanya.
Tetapi pembelajaran melalui aplikasi ini dirasa kurang efektif bagi pendidikan jenjang menengah dikarenakan kurangnya fitur untuk lebih berinteraksi dan memaparkan materi. Aplikasi ini efektif digunakan untuk pendidikan jenjang PAUD, TK, dan SD.

Ilustrasi siswa SD sedang lakukan proses belajar mengajar dengan sistem daring. (istimewa)
Ilustrasi siswa SD sedang lakukan proses belajar mengajar dengan sistem daring. (istimewa)

Sedangkan untuk jenjang menengah sampai perguruan tinggi lazim menggunakan aplikasi Google Classroom, Zoom Meeting dan Google Meet yang memang banyak memliki kelebihan dibanding dengan aplikasi lain. Google Classroom memiliki fitur yang khusus untuk pendidik dan peserta didik, membuat kelas atau gabung ke kelas.

Untuk pendidik, fitur-fitur lain dalam aplikasi Google Classroom seperti membuat tugas, pertanyaan, membagikan materi/topik berupa file dokumen atau pun video pembelajaran, merepost materi, membagikan link youtube, membagikan dokumen dari google drive, memberikan nilai, memberikan estimasi pengiriman jawaban tugas serta rubrik sangat membantu pendidik untuk melakukan Kegiatan Belajar Mengajar selama pembelajaran jarak jauh.

Zoom meeting dan Google Meet adalah aplikasi yang marak digunakan di segala lini kehidupan: sekolah, perkuliahan hingga pekerjaan. Aplikasi yang mempertemukan peserta didik dengan pendidik di depan layar ini memang digandrungi oleh masyarakat seluruh dunia. Selain mampu melipat ruang dan waktu, aplikasi ini juga dapat mengefisienkan jarak: yang jauh terasa dekat.

Fitur mikrofon, kamera, dan share screen yang dapat digunakan untuk mempresentasikan materi dan membuat dokumen, serta (untuk Google Meet) dapat menerjemahkan informasi yang disampaikan oleh pemateri dalam bentuk bahasa Inggris membuat aplikasi ini merupakan aplikasi terbaik sejauh ini.

Ida Dahlia, S.S. (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka)
Ida Dahlia, S.S.
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka)

Penulis: Ida Dahlia, S.S.
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka)

Seperti apapun yang dijelaskan di atas, yang harus menjadi catatan adalah bahwasanya gegap gempita perayaan pembelajaran berbasis daring (dalam jaringan) tidak bisa dirasakan oleh semua rakyat Indonesia. Oleh karenanya, kewajiban bagi pemerintah Indonesia untuk menyiapkan formula yang lebih efisien, tepat sasaran dan merujuk pada hakikat mekanisme pembelajaran daring yang dapat diakses seluruh kalangan terutama kaum pinggiran.

Karena menurut salah seorang kritikus pendidikan yang tidak bisa disebutkan namanya, “Pendidikan yang setara harus dijawab dengan ketajaman metodologi, bukan dengan memaksakan ideologi.”

Sejatinya, mengatasi masalah pendidikan di masa Pandemi COVID-19, memang bukan hanya tugas pemerintah saja. Perlu juga kesadaran dan perubahan pola pemikiran masyarakat untuk tetap bisa membuat anak-anak bangsa, tetap mendapatkan pendidikan. Teknologi, hanya menjadi jembatan.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat